Perkembangan pesat kecerdasan buatan dalam lima tahun terakhir telah membawa perubahan signifikan pada bidang computer vision. Pada periode 2020–2025, Convolutional Neural Network (CNN) menjadi arsitektur utama yang mendorong lompatan besar dalam kemampuan sistem untuk memahami dan menafsirkan informasi visual. Teknologi ini memungkinkan mesin mengenali objek, wajah, dan pola visual dengan tingkat akurasi yang semakin mendekati persepsi manusia (1).
CNN dirancang untuk meniru cara kerja sistem visual manusia melalui operasi konvolusi dan ekstraksi fitur hierarkis. Lapisan awal CNN berfokus pada pendeteksian fitur sederhana seperti tepi dan tekstur, sementara lapisan yang lebih dalam menangkap representasi yang lebih kompleks, seperti bentuk dan objek utuh. Pendekatan ini terbukti sangat efektif dalam menangani data visual berdimensi tinggi (2).
Pada periode 2020–2025, revolusi computer vision tidak hanya ditandai oleh peningkatan akurasi, tetapi juga oleh efisiensi model. Arsitektur seperti ResNet, EfficientNet, dan MobileNet mengalami penyempurnaan signifikan untuk mengurangi kompleksitas komputasi tanpa mengorbankan performa. Hal ini memungkinkan CNN diimplementasikan pada perangkat dengan sumber daya terbatas, seperti smartphone dan sistem embedded (3).
Penerapan CNN dalam berbagai sektor industri semakin meluas. Di bidang kesehatan, CNN digunakan untuk analisis citra medis, seperti deteksi kanker dari citra radiologi dan pengenalan pola pada hasil pemindaian MRI atau CT scan. Dalam sektor otomotif, CNN menjadi komponen kunci pada sistem Advanced Driver Assistance Systems (ADAS) dan kendaraan otonom untuk mendeteksi objek, jalur, dan rambu lalu lintas (4).
Revolusi computer vision juga terlihat pada perkembangan teknik object detection dan image segmentation. Model seperti YOLO, Faster R-CNN, dan Mask R-CNN memungkinkan sistem mendeteksi dan mengklasifikasikan banyak objek secara real-time. Kemampuan ini membuka peluang baru pada bidang pengawasan, industri manufaktur, dan analisis video skala besar (2, 5).
Selain aspek teknis, periode ini juga ditandai oleh meningkatnya kesadaran terhadap isu etika dan privasi. Penggunaan CNN untuk pengenalan wajah dan pemantauan visual menimbulkan diskusi tentang perlindungan data dan bias algoritma. Oleh karena itu, penelitian terbaru mulai mengarah pada pengembangan model yang lebih transparan, adil, dan dapat dijelaskan, sejalan dengan prinsip Explainable AI (XAI) (6).
Secara keseluruhan, CNN telah menjadi fondasi utama revolusi computer vision pada periode 2020–2025. Dengan kombinasi peningkatan performa, efisiensi, dan cakupan aplikasi yang luas, CNN tidak hanya mengubah cara mesin melihat dunia, tetapi juga membentuk masa depan interaksi antara manusia dan teknologi visual di berbagai sektor kehidupan.
Referensi
- LeCun, Y., Bengio, Y., & Hinton, G. (2015). Deep Learning. Nature.
- Goodfellow, I., Bengio, Y., & Courville, A. (2016). Deep Learning. MIT Press.
- Tan, M., & Le, Q. (2019). EfficientNet: Rethinking Model Scaling for Convolutional Neural Networks. ICML.
- Litjens, G., et al. (2017). A Survey on Deep Learning in Medical Image Analysis. Medical Image Analysis.
- Redmon, J., et al. (2016). You Only Look Once: Unified, Real-Time Object Detection. CVPR.
- Arrieta, A. B., et al. (2020). Explainable Artificial Intelligence (XAI): Concepts, Taxonomies, Opportunities and Challenges. Information Fusion.






