Blog

  • VR & AR di Kampus: Teknologi Baru untuk Mahasiswa

    VR & AR di Kampus: Teknologi Baru untuk Mahasiswa

    Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) telah berkembang pesat dan mulai diterapkan secara nyata di dunia pendidikan tinggi. Bagi mahasiswa, kehadiran teknologi ini tidak hanya memperkaya proses belajar, tetapi juga mengubah cara berinteraksi, berkreasi, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional. Kampus tidak lagi sekadar ruang fisik tempat perkuliahan berlangsung, melainkan juga menjadi ruang digital yang interaktif dan imersif. Salah satu dampak paling nyata dari transformasi ini terlihat dalam cara mahasiswa belajar dan menyerap materi.

    Mengubah Cara Belajar: Kuliah Jadi Pengalaman Menarik

    Bayangkan kamu sedang belajar anatomi manusia. Alih-alih menatap gambar dua dimensi di buku, kamu mengenakan headset VR dan langsung berada “di dalam” tubuh manusia, di mana kamu bisa mengamati organ-organ secara tiga dimensi, bahkan memanipulasinya. Inilah keunggulan VR dalam pembelajaran: membuat konsep rumit menjadi nyata dan mudah dipahami.

    Teknologi ini digunakan secara luas di bidang medis, teknik, arsitektur, bahkan sejarah. Menurut jurnal dari National Library of Medicine (2024), mahasiswa yang belajar dengan simulasi VR menunjukkan peningkatan signifikan dalam retensi informasi dan pemahaman konsep praktis dibanding metode konvensional.


    Karya Kreatif & Presentasi Lebih Menarik dengan AR

    Tidakhanya untuk belajar, AR menjadi alat ampuh dalam presentasi dan proyek kreatif mahasiswa. Mahasiswa jurusan desain, informatika, atau teknik bisa memvisualisasikan hasil karyanya secara langsung di ruang nyata, cukup lewat kamera handphone. Misalnya, membuat aplikasi AR yang menampilkan prototipe robot, denah arsitektur, atau model 3D mobil listrik.

    Dengan bantuan tools seperti Unity, Vuforia, atau 8thWall, mahasiswa kini bisa menyulap ide menjadi pengalaman nyata yang interaktif. Hal ini menjadikan presentasi tugas akhir, lomba inovasi, atau pameran karya mahasiswa jauh lebih menarik dan imersif.


    Persiapan Karier Lebih Realistis

    Tidak hanya di dunia perkuliahan, dunia kerja juga mulai mengadopsi VR untuk pelatihan soft skills. Beberapa universitas dan startup seperti Bodyswaps menyediakan simulasi wawancara kerja, public speaking, bahkan etika kerja di lingkungan profesional.

    Mahasiswa bisa melatih keterampilan interpersonal secara aman dan realistis, tanpa tekanan dari dunia nyata. Hal ini sangat berguna terutama bagi mereka yang masih merasa gugup atau kurang percaya diri saat menghadapi wawancara kerja.


    Navigasi Kampus & Event Digital dalam Genggaman

    Bagi mahasiswa baru, AR sangat membantu dalam menjelajahi kampus. Beberapa universitas sudah mengembangkan aplikasi AR Campus Tour, yang memandu pengguna keliling kampus sambil menampilkan informasi lokasi, sejarah gedung, hingga penunjuk arah ke ruang kelas.

    Selain itu, kampus mulai menyelenggarakan event digital berbasis VR, seperti seminar, wisuda virtual, hingga konser online. Platform seperti Mozilla Hubs atau AltspaceVR memungkinkan mahasiswa hadir sebagai avatar, saling berbincang, dan merasakan suasana acara meski berada di tempat yang berbeda.


    Bukan Sekadar Gimmick, Tapi Solusi Masa Depan

    Teknologi VR dan AR bukan sekadar gaya-gayaan. Ini adalah jawaban atas tantangan zaman: bagaimana belajar lebih efektif, beradaptasi dengan dunia digital, dan menyiapkan mahasiswa menghadapi industri 4.0.

    Kehadiran VR dan AR memperkaya pengalaman kuliah, membuka peluang baru di bidang kreatif, edukasi, bahkan wirausaha digital. Untuk mahasiswa yang berpikiran maju, teknologi ini bisa menjadi alat eksplorasi, inovasi, dan ekspresi diri.


    Saatnya Mahasiswa Mencoba

    Kamu mahasiswa yang ingin mencoba? Tak harus punya headset mahal. Banyak proyek AR bisa dibuat hanya dengan ponsel dan kreativitas. Mulailah dari hal kecil—buat prototipe sederhana, ikut hackathon bertema teknologi imersif, atau bentuk komunitas kampus yang eksplor AR/VR.

    Karena di era digital ini, mahasiswa bukan hanya pengguna teknologi, tapi juga pencipta masa depan.

    Referensi
    1. National Library of Medicine. (2023). Virtual Reality in Education: A Literature Review. Retrieved from https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11040080
    2. Jurnal Cahaya Mandalika. (2022). Dampak Virtual Reality terhadap Keterlibatan Mahasiswa dan Hasil Belajar di Perguruan Tinggi. Jurnal Cahaya Mandalika, 6(2). Diakses dari https://ojs.cahayamandalika.com/index.php/jcm/article/download/3072/2464/
    3. Edunitas. (2023). Penggunaan Augmented Reality (AR) di Kampus, Apa itu dan Bagaimana Penerapannya. Diakses dari https://edunitas.com/edunews/detail/penggunaan-teknologi-augmented-reality/
  • Mahasiswa Telkom University Surabaya Kenalkan Etika Digital kepada Siswa SMP Widya Darma

    Perkembangan teknologi digital telah menciptakan transformasi besar dalam cara manusia berinteraksi, belajar, dan mengakses informasi. Di kalangan pelajar, khususnya generasi Z, penggunaan gawai bukan lagi hal baru. Namun, peningkatan akses ini tidak selalu diiringi dengan kemampuan untuk menggunakan teknologi secara bijak dan etis. Banyak siswa SMP lebih terbiasa menggunakan perangkat digital untuk hiburan dibanding untuk pembelajaran yang bermakna. Selain itu, pemahaman mengenai privasi digital, etika bermedia sosial, dan deteksi hoaks masih tergolong rendah (Zebua, 2023).

    Menanggapi fenomena ini, sekelompok mahasiswa dari Program Studi Informatika Universitas Telkom Surabaya menginisiasi kegiatan bertajuk “Sosialisasi Pembelajaran Digital di Tingkat SMP”. Program ini merupakan bentuk nyata pengabdian masyarakat yang ditujukan kepada siswa kelas 7 di SMP Widya Darma, Surabaya. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk menanamkan literasi digital dasar, agar para siswa dapat berinteraksi di dunia maya secara cerdas, aman, dan bertanggung jawab.

    Edukasi Langsung: Dari Mahasiswa untuk Generasi Penerus

    Kegiatan sosialisasi dilaksanakan pada Rabu, 16 April 2025 di ruang kelas 7 SMP Widya Darma. Sebanyak lima mahasiswa berpartisipasi aktif sebagai fasilitator: Dimas Febrianto (ketua), serta anggota Muhammad Ijaz Shafarin, Dimash Altairs, Haydar Akbar, dan Nicodavin Kautsar. Mereka didampingi oleh dosen pembimbing, Muhammad Dzulfikar Fauzi, S.Kom., M.Cs.

    Sesi pembelajaran disampaikan melalui pendekatan ceramah interaktif dan praktik langsung, dengan topik yang sangat relevan dengan kondisi sosial digital remaja masa kini:

    • Etika Komunikasi Digital: Mengajarkan sopan santun dan tanggung jawab di media sosial.
    • Deteksi Hoaks: Memberikan panduan membedakan informasi yang valid dan palsu.
    • Keamanan Digital: Meningkatkan kesadaran menjaga data pribadi dari potensi ancaman siber.

    Kegiatan berlangsung dinamis. Siswa tidak hanya menyimak, tetapi aktif berdiskusi. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Apa yang harus dilakukan kalau jadi korban komentar negatif di media sosial?” menunjukkan bahwa materi yang disampaikan sangat dekat dengan pengalaman nyata mereka.

    Hasil dan Harapan: Membentuk Generasi Digital yang Beretika

    Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga sebagai media pertumbuhan karakter digital siswa. Para siswa mulai memahami bahwa teknologi bukan hanya alat hiburan, melainkan pintu menuju pembelajaran dan pengembangan diri bila digunakan secara bijak.

    Ke depan, program serupa sangat penting untuk terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan luas jangkauannya, tidak terbatas pada satu sekolah. Mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki peran strategis dalam menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan praktis masyarakat, terutama di bidang teknologi informasi dan komunikasi.

    Di era digital yang makin terhubung, kesadaran literasi digital harus ditanamkan sejak dini. Pendidikan semacam ini adalah pondasi untuk membentuk generasi muda yang cerdas, kritis, dan beretika dalam bermedia digital. Dengan langkah konkret seperti ini, Universitas Telkom tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter bangsa melalui teknologi.

    Refrensi
    Zebua, F. R. S. (2023). Analisis Tantangan dan Peluang Guru di Era Digital. Jurnal Informatika Dan Teknologi Pendidikan, 3(1), 21–28. https://doi.org/10.25008/jitp.v3i1.55

    Dosen Pembimbing:
    Muhammad Dzulfikar Fauzi, S.Kom., M.Cs.

    Ketua Tim:
    Dimas Febrianto

    Anggota Tim Mahasiswa:

    1. Muhammad Ijaz Shafarin
    2. Dimash Altairs Hidayatulloh
    3. Haydar Akbar Al Gani
    4. Nicodavin Kautsar Idiarto
  • Peningkatan Wawasan Digital Siswa SMA 18 Surabaya melalui Seminar Pengenalan WordPress oleh Telkom University

    Peningkatan Wawasan Digital Siswa SMA 18 Surabaya melalui Seminar Pengenalan WordPress oleh Telkom University

    Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan. Namun, banyak siswa di SMA 18 Surabaya masih menghadapi kendala dalam memahami dan menguasai teknologi digital, khususnya dalam hal pembuatan dan pengelolaan website. Kurangnya akses terhadap pengetahuan praktis dan keterampilan digital menjadi salah satu penyebab utama. Di sisi lain, keterampilan pembuatan website adalah salah satu kompetensi penting yang dibutuhkan di era digital saat ini.

    Bagaimana seminar pengenalan WordPress yang diselenggarakan oleh Telkom University dapat membantu siswa SMA 18 Surabaya memahami konsep teknologi digital dan pengelolaan website?

    Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan pelaksanaan seminar pengenalan WordPress di SMA 18 Surabaya, manfaat yang diperoleh siswa, serta peran Telkom University dalam mendukung pengembangan keterampilan digital di kalangan pelajar. Artikel ini akan membahas latar belakang pelaksanaan seminar pengenalan WordPress di SMA 18 Surabaya, materi yang disampaikan kepada siswa, manfaat yang dirasakan oleh peserta, serta kontribusi Telkom University dalam memberdayakan siswa dengan keterampilan digital.

    Pelaksanaan Seminar WordPress

    Seminar pengenalan WordPress adalah sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh Telkom University di SMA 18 Surabaya sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada siswa mengenai teknologi digital, khususnya platform WordPress sebagai sistem manajemen konten (Content Management System/CMS) yang populer digunakan untuk pembuatan dan pengelolaan website. Seminar ini dilaksanakan karena banyak siswa SMA 18 Surabaya yang masih memiliki keterbatasan pemahaman mengenai teknologi digital, terutama dalam pembuatan website. Padahal, keterampilan digital, termasuk penguasaan CMS seperti WordPress, menjadi salah satu kemampuan yang penting di era teknologi saat ini. Melalui seminar ini, siswa diharapkan dapat memahami dasar-dasar pengelolaan website dan manfaatnya.

    Dipimpin oleh Fandisya Rahman, S.Kom., M.Kom., sebagai dosen pembimbing dari Telkom University, seminar ini juga melibatkan mahasiswa Informatika Telkom University, termasuk ketua kelompok Alvito Uday Alfariz serta anggota Khristian Alexsandro Galih Kusuma Wibowo, Moch Elang Samudra, Wisnu Buwana Prabaswara, dan Raka Muhammad Sixmarch. Seminar ini dilaksanakan di SMA 18 Surabaya, dirancang dalam beberapa sesi yang dimulai dengan pengenalan konsep CMS hingga pemahaman mengenai penggunaan WordPress.

    Pada pelaksanaannya, seminar diawali dengan pemaparan materi mengenai pengenalan teknologi digital dan konsep sistem manajemen konten (CMS). Para pemateri menjelaskan cara kerja WordPress, fungsi-fungsi utamanya, serta manfaat yang dapat diperoleh dari penguasaan platform ini. Siswa diberikan kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, dan memahami secara mendalam melalui contoh-contoh visual yang disampaikan oleh narasumber.

    Kesimpulan dan Rekomendasi

    Seminar pengenalan WordPress yang diselenggarakan oleh Telkom University di SMA 18 Surabaya telah berhasil memberikan wawasan kepada siswa mengenai teknologi digital, khususnya platform WordPress sebagai sistem manajemen konten (CMS). Melalui seminar ini, siswa tidak hanya memahami konsep CMS tetapi juga mengenali potensi website sebagai media informasi, portofolio, dan sarana kreatif. Kegiatan ini melibatkan kolaborasi antara dosen dan mahasiswa Informatika Telkom University, yang secara aktif memberikan pengetahuan dan bimbingan kepada peserta.

    Bagi pihak sekolah, kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkala untuk memperkaya wawasan digital siswa. Selain itu, siswa yang telah mengikuti seminar diharapkan dapat terus mengembangkan keterampilan digital mereka, baik secara mandiri maupun melalui program pelatihan lanjutan. Pihak Telkom University juga dapat mempertimbangkan untuk menyelenggarakan seminar digital dengan topik-topik lain yang relevan dengan kebutuhan siswa.

    Keterampilan digital, terutama pemahaman tentang platform website seperti WordPress, adalah salah satu kompetensi penting di era teknologi saat ini. Dengan memahami teknologi ini, siswa dapat lebih siap menghadapi tantangan dunia digital, baik untuk keperluan akademik, kewirausahaan, maupun pengembangan karier di masa depan. Seminar ini merupakan langkah nyata dalam membekali siswa dengan keterampilan yang relevan dan bermanfaat.

    REFERENSI :

    Tim KKN UNS. (2017). Modul Pelatihan WordPress. link

    Robert M. Marbun, MA. (2020). Modul WordPress untuk pemula. link

    MUHAMMAD FADILLAH ARSA , S.KOM., M.M. (2021). Buku Belajar WordPress Dari Dasar Hingga Mahir. link

    Link Dokumentasi Seminar:
    📁 Google Drive – Seminar Pengenalan WordPress di SMA 18 Surabaya
    (Tim Pengabdian Masyarakat – Telkom University)

    Dosen Pembimbing:

    • Fandisya Rahman, S.Kom., M.Kom.

    Mahasiswa Informatika Telkom University:

    • Alvito Uday Alfariz (Ketua Kelompok)
    • Khristian Alexsandro Galih Kusuma Wibowo (Anggota)
    • Moch Elang Samudra (Anggota)
    • Wisnu Buwana Prabaswara (Anggota)
    • Raka Muhammad Sixmarch (Anggota)
  • Cloud Computing vs Edge Computing: Mana yang Lebih Relevan untuk Aplikasi Modern?

    Cloud Computing vs Edge Computing: Mana yang Lebih Relevan untuk Aplikasi Modern?

    Bayangkan kamu sedang memakai kacamata augmented reality (AR) di sebuah toko furniture virtual. Kamu memutar-mutar sofa digital agar pas di ruang tamumu, lalu memanggil asisten AI untuk membandingkan harga secara real-time. Semua ini berlangsung dalam waktu kurang dari satu detik.

    Pertanyaannya: di mana data ini diproses? Apakah oleh server ribuan kilometer jauhnya di pusat data cloud, atau langsung di perangkat di tanganmu?

    Itulah esensi perdebatan yang semakin relevan hari ini—cloud computing versus edge computing.


    Cloud: Pusat Kekuatan Digital Global

    Cloud computing telah menjadi tulang punggung revolusi digital. Di sinilah data dari miliaran perangkat dikumpulkan, disimpan, dianalisis, dan dikelola. Raksasa teknologi seperti AWS, Google Cloud, dan Microsoft Azure menyediakan infrastruktur komputasi yang elastis dan sangat scalable.

    Keunggulannya jelas: mudah diperluas, efisien biaya, dan kaya akan fitur seperti machine learning, data warehousing, hingga disaster recovery. Cloud sangat ideal untuk aplikasi seperti e-commerce, platform SaaS, sistem ERP, dan layanan berbasis data besar.

    Namun, cloud memiliki kelemahan krusial: latensi. Mengirim data dari perangkat ke pusat data dan kembali lagi memakan waktu—dan dalam dunia yang makin real-time, milidetik pun bisa berarti kegagalan.


    Edge: Kecepatan dan Kecerdasan di Ujung Jaringan

    Berbeda dari cloud yang terpusat, edge computing membawa kekuatan pemrosesan ke “pinggiran”—yaitu ke perangkat itu sendiri, atau ke server lokal yang dekat dengan sumber data. Ini membuat edge unggul dalam kecepatan respon dan efisiensi bandwidth.

    Contohnya sangat nyata di dunia industri: pada pabrik pintar, robot dan sensor tidak bisa menunggu sinyal dari cloud untuk mengambil keputusan. Mereka harus memproses data secara lokal dan bertindak seketika. Demikian juga mobil otonom yang harus mengerem mendadak ketika mendeteksi rintangan—tidak mungkin menunggu instruksi dari pusat data di Amerika saat ia melaju di jalan Jakarta.

    Edge adalah fondasi bagi aplikasi seperti AR/VR, video analytics, kendaraan otonom, dan smart grid. Ia tidak menggantikan cloud, tapi melengkapi—karena tidak semua data harus, atau boleh, dikirim jauh.


    Tesla, Starlink, dan Smart City

    Tesla memanfaatkan edge untuk pemrosesan visual, navigasi, dan pengambilan keputusan langsung di dalam kendaraan. Tapi data yang dikumpulkan dikirim ke cloud untuk pembelajaran mesin secara terpusat—menjadikan mobil Tesla hari ini lebih pintar dari kemarin.

    Sementara Starlink dari SpaceX mengandalkan edge node satelit untuk merutekan internet secara dinamis—membuat pengalaman online tetap stabil bahkan di daerah terpencil, sebelum data akhirnya disalurkan ke pusat data cloud.

    Lihat juga Barcelona, kota pintar yang menggunakan edge untuk pengaturan lampu lalu lintas secara real-time, sementara cloud dipakai untuk analisis data lalu lintas jangka panjang. Kombinasi dua kekuatan inilah yang membentuk masa depan urban digital.


    Mana yang Lebih Relevan?

    Jika aplikasimu memerlukan respon cepat, minim latensi, dan koneksi lokal, edge adalah pilihan logis. Tapi jika kamu butuh analitik skala besar, integrasi global, dan fleksibilitas elastis, cloud adalah rumahnya.

    Bahkan tren terbaru adalah fog computing—hibrida yang menempatkan layer pemrosesan antara cloud dan edge, memungkinkan pengelolaan data yang cerdas dan adaptif dari ujung ke pusat.


    Pada Akhirnya Bukan Duel, Tapi Kolaborasi

    Dalam dunia yang semakin terhubung, tidak ada satu solusi yang berlaku universal. Cloud dan edge bukanlah rival, tapi rekan satu tim. Keduanya berperan sesuai konteks: yang satu menyediakan kekuatan pemrosesan dan penyimpanan besar-besaran, yang lain menjamin kecepatan dan kedekatan dengan pengguna akhir.

    Memilih teknologi bukan soal ikut tren, tapi soal memahami kebutuhan spesifik dari aplikasi modern yang kita bangun. Dan kadang, jawaban terbaik bukan memilih satu, tapi merancang arsitektur di mana cloud dan edge saling melengkapi.

    Referensi Ilmiah
    1. Shi, W., et al. (2016). Edge Computing: Vision and Challenges. IEEE Internet of Things Journal.
    2. Satyanarayanan, M. (2017). The emergence of edge computing. Computer.
    3. Varghese, B., & Buyya, R. (2018). Next generation cloud computing: New trends and research directions. Future Generation Computer Systems.
    4. Mahmood, Z., & Hill, R. (2011). Cloud Computing for Enterprise Architectures. Springer.
    5. Chiang, M., & Zhang, T. (2016). Fog and IoT: An overview of research opportunities. IEEE Internet of Things Journal.

  • China Luncurkan Internet 10G: Awal Revolusi Teknologi Jaringan Global

    China Luncurkan Internet 10G: Awal Revolusi Teknologi Jaringan Global

    Sebuah Lompatan Teknologis

    Tiongkok kembali mencuri perhatian dunia dengan pencapaiannya dalam teknologi jaringan. Pada April 2025, negeri Tirai Bambu itu resmi meluncurkan jaringan internet 10G pertama di dunia—sebuah infrastruktur supercepat yang membuka babak baru dalam era digital global. Bukan sekadar peningkatan kecepatan, internet 10G mencerminkan perubahan paradigma dalam cara manusia berinteraksi dengan teknologi, membuka peluang revolusioner dalam berbagai sektor seperti smart city, industri 4.0, streaming multimedia, dan kecerdasan buatan.

    1. Apa Itu Internet 10G dan Mengapa Penting?

    Internet 10G adalah evolusi dari teknologi broadband yang menawarkan kecepatan hingga 10 gigabit per detik (Gbps)—jauh melebihi kapasitas jaringan 5G dan bahkan jaringan fiber optik konvensional saat ini. Meski namanya terdengar mirip dengan 5G (generasi kelima dari jaringan seluler), 10G sebenarnya adalah terobosan dalam jaringan tetap (fixed broadband), bukan seluler.

    Komponen Teknologi Kunci:

    • 50G-PON (Passive Optical Network): Teknologi inti di balik 10G, memungkinkan transfer data ultra-cepat melalui serat optik pasif.
    • F5G-A (Fifth Generation Fixed Network – Advanced): Standar baru jaringan serat optik tetap yang menyokong penggunaan 10G.
    • Kolaborasi Strategis: Dikembangkan melalui kerja sama antara Huawei dan China Unicom, dua raksasa teknologi Tiongkok.

    Dengan kecepatan unduh aktual yang dilaporkan mencapai 9.834 Mbps dan unggah 1.008 Mbps, serta latensi hanya sekitar 3 milidetik, internet 10G menjanjikan kualitas koneksi yang sangat stabil, cepat, dan real-time.

    2. Mengapa Diluncurkan di Kota Xiong’an?

    Kota Xiong’an di Provinsi Hebei dipilih sebagai lokasi peluncuran pertama. Kota ini merupakan proyek “kota masa depan” di bawah strategi nasional Tiongkok untuk membangun smart city dengan standar tinggi, efisiensi energi, dan konektivitas total.

    Implementasi jaringan 10G menjadi tulang punggung dari visi ini. Xiong’an diharapkan menjadi laboratorium hidup bagi penerapan teknologi seperti:

    • Internet of Things (IoT) massal
    • Sistem transportasi cerdas
    • Infrastruktur digital real-time
    • Pengawasan kota berbasis AI dan big data

    3. Dampak Teknologi 10G terhadap Perkembangan Teknologi Global

    Peluncuran jaringan 10G bukan hanya pencapaian teknis, melainkan juga tonggak penting yang akan mendorong inovasi di berbagai bidang teknologi.

    a. Streaming dan Multimedia

    • Streaming video 8K tanpa buffering menjadi standar baru.
    • Pengunduhan film 4K (20 GB) hanya butuh kurang dari 20 detik.
    • Film 8K (90 GB) bisa diunduh dalam waktu kurang dari 1,5 menit.

    b. Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR)

    • Realitas imersif kini bisa diakses tanpa lag.
    • Digunakan dalam pelatihan militer, medis, dan simulasi industri.

    c. Industri dan Otomatisasi

    • Kendaraan otonom kini dapat berjalan dengan koneksi real-time yang sangat stabil.
    • Jaringan industri (Industrial Internet of Things / IIoT) menjadi lebih responsif dan presisi tinggi.

    d. Smart Home dan Layanan Cloud

    • Perangkat rumah pintar dapat bekerja tanpa delay.
    • Pengolahan data besar secara cloud (Cloud Computing) menjadi lebih efisien.

    4. Strategi Urbanisasi: “15-Minute Living Circle”

    Konsep ini mengacu pada pembangunan lingkungan di mana seluruh kebutuhan harian—mulai dari pendidikan, pekerjaan, layanan kesehatan, hingga rekreasi—dapat dicapai dalam waktu 15 menit berjalan kaki. Internet 10G menjadi kunci dalam mengintegrasikan:

    • Layanan berbasis aplikasi pintar
    • Lalu lintas otomatis
    • Manajemen energi dan air berbasis AI
    • Sistem logistik cepat dan terintegrasi

    5. Posisi Geopolitik dan Ambisi Teknologi Tiongkok

    Melalui langkah ini, Tiongkok tidak hanya menunjukkan supremasi teknologinya tetapi juga mengukuhkan peran sebagai pengarah tren teknologi global. Dominasi di bidang jaringan berarti dominasi dalam:

    • Infrastruktur cloud global
    • Standarisasi perangkat keras dan lunak
    • Keamanan siber dan data lintas negara

    Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa pun dipaksa untuk mempercepat pengembangan jaringan tandingan seperti XGS-PON dan Wi-Fi 7, meskipun belum menyamai level adopsi 10G di Tiongkok.

    Era Baru Konektivitas Dimulai

    Peluncuran internet 10G oleh Tiongkok bukan sekadar pencapaian teknis, melainkan deklarasi bahwa masa depan jaringan telah tiba. Teknologi ini berpotensi merevolusi cara manusia hidup, bekerja, dan berinteraksi dengan dunia digital. Dengan kapasitas, kecepatan, dan stabilitas yang luar biasa, jaringan 10G akan menjadi fondasi bagi semua inovasi masa depan, mulai dari smart city hingga kecerdasan buatan berskala besar.

    Pertanyaannya sekarang adalah bukan kapan dunia akan menyusul, tetapi bagaimana cara dunia menyesuaikan diri terhadap standar baru yang telah ditetapkan oleh Tiongkok.

    Referensi

    Author: @gerrardgs

  • Keamanan Siber 5.0: Perlindungan Cerdas di Era Digitalisasi Total

    Keamanan Siber 5.0: Perlindungan Cerdas di Era Digitalisasi Total

    Era digitalisasi total telah membawa berbagai kemajuan teknologi, namun juga membuka celah baru terhadap ancaman siber yang semakin kompleks. Konsep Cybersecurity 5.0 hadir sebagai respons terhadap peningkatan integrasi teknologi seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), dan sistem siber-fisik. Keamanan Siber 5.0 mengedepankan pendekatan proaktif, adaptif, dan berbasis kecerdasan untuk melindungi data, infrastruktur digital, dan sistem kritis nasional.

    Keamanan Siber 5.0 merepresentasikan transformasi dari pendekatan reaktif menjadi prediktif dan preskriptif. Menurut Alsmadi dan Zarour (2021), pendekatan ini melibatkan analitik real-time, pemodelan ancaman berbasis AI, dan perlindungan terhadap serangan siber terotomatisasi yang berkembang cepat. Ini termasuk perlindungan terhadap Advanced Persistent Threats (APT), ransomware, dan serangan berbasis AI.

    Menurut Khraisat et al. (2019), teknologi utama dalam Keamanan Siber 5.0 mencakup:

    • Deteksi anomali berbasis machine learning
    • Enkripsi berbasis blockchain
    • Sistem pertahanan adaptif
    • Automasi respon insiden

    Penerapan teknologi ini memungkinkan sistem keamanan untuk belajar dari serangan sebelumnya dan menyesuaikan pertahanan secara otomatis.

    Salah satu serangan terbesar dalam dekade ini adalah serangan terhadap SolarWinds yang mengekspos ribuan organisasi global. Dalam responsnya, beberapa institusi menggunakan platform AI-driven seperti Darktrace untuk mendeteksi aktivitas jaringan mencurigakan secara real-time. Menurut studi oleh CISA (2021), teknologi berbasis AI membantu mempercepat proses identifikasi dan penanggulangan insiden.

    Estonia dikenal sebagai negara dengan sistem digital paling maju. Dalam proyek e-Residency, keamanan data warga negara asing dijamin melalui enkripsi end-to-end, sistem autentikasi berlapis, dan pemantauan aktivitas berbasis AI. Menurut Tikk et al. (2010), Estonia juga membangun NATO Cyber Defence Centre sebagai bagian dari upaya keamanan siber nasional.

    Tantangan utama dalam penerapan Keamanan Siber 5.0 meliputi keterbatasan sumber daya manusia ahli, kerentanan teknologi baru, serta lemahnya regulasi siber global. Menurut Khan et al. (2020), diperlukan kolaborasi antar negara, adopsi framework keamanan modern, dan literasi digital untuk semua level masyarakat guna meningkatkan ketahanan siber.

    Keamanan Siber 5.0 adalah fase kritis dalam menjaga integritas dan keberlanjutan sistem digital modern. Dengan pendekatan berbasis kecerdasan, adaptif, dan kolaboratif, era digitalisasi total dapat berjalan aman dan terpercaya. Studi kasus SolarWinds dan Estonia menunjukkan bahwa respons yang cepat dan berbasis teknologi canggih menjadi kunci dalam menghadapi ancaman siber generasi baru.

    Referensi:

    1. Alsmadi, I., & Zarour, M. (2021). Cybersecurity 5.0: A Review of Modern Cybersecurity Concepts and Technologies. IEEE Access, 9, 149513-149531.
    2. Khraisat, A., Gondal, I., Vamplew, P., & Kamruzzaman, J. (2019). Survey of intrusion detection systems: techniques, datasets and challenges. Cybersecurity, 2(1), 1-22.
    3. CISA. (2021). Supply Chain Compromise of SolarWinds Orion Platform. Cybersecurity and Infrastructure Security Agency.
    4. Tikk, E., Kaska, K., & Vihul, L. (2010). International Cyber Incidents: Legal Considerations. CCDCOE Publications.
    5. Khan, M. A., Ali, M., & Ayaz, M. (2020). Cybersecurity Challenges and Solutions in the Era of Smart Devices and AI. Journal of Network and Computer Applications, 157, 102593.
  • “Prodi Informatika Telkom University Surabaya Berkolaborasi dengan Prodi Lain dan Berinovasi dengan Membuat Pendataan & Implementasi E-Commerce Pada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Desa Panjunan Goes to Smart Village”

    “Prodi Informatika Telkom University Surabaya Berkolaborasi dengan Prodi Lain dan Berinovasi dengan Membuat Pendataan & Implementasi E-Commerce Pada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Desa Panjunan Goes to Smart Village”

    Telkom University Kampus Surabaya melalui program pengabdian kepada masyarakat terus berkontribusi dalam memberdayakan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Desa Panjunan, Gresik. Melalui inovasi digital, program ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing UMKM dengan memanfaatkan teknologi e-commerce, memungkinkan pelaku usaha menjangkau pasar yang lebih luas tanpa keterlibatan perantara.

    Transformasi Digital untuk UMKM Desa Panjunan

    Dipimpin oleh Arni Muarifah Amri, S.T., M.T., program ini melibatkan kolaborasi lintas prodi dengan dukungan dosen dan mahasiswa dari berbagai bidang, termasuk Dr. Dyah Putri Rahmawati, S.Stat., Dewi Rahmawati, S.Kom., M.Kom., serta mahasiswa Evi Fitriya, Deo Farady Santoso, Devit Erlingga Arafiudin, Yemima Alda Puturuhu, dan Raihan Siyun.

    Program ini memfasilitasi pengenalan dan implementasi platform e-commerce yang dikembangkan oleh tim pengabdian. Platform ini memungkinkan pelaku UMKM lokal untuk menjual produk mereka langsung ke konsumen tanpa keterlibatan tengkulak, sehingga harga jual menjadi lebih adil dan kompetitif.

    Produk unggulan Desa Panjunan, seperti kerajinan tangan dobong, kini memiliki peluang lebih besar untuk dipasarkan di tingkat nasional hingga internasional. Langkah ini menjadi solusi konkret bagi permasalahan harga jual rendah yang selama ini dihadapi oleh pelaku UMKM akibat ketergantungan pada perantara.

    Peluncuran dan Pelatihan

    Program ini secara resmi diluncurkan pada 12 Februari 2024, dengan serangkaian kegiatan yang berfokus pada pengembangan dan penerapan teknologi e-commerce. Pada pertemuan pertama yang berlangsung pada 29 Mei 2024, tim melakukan analisis kebutuhan pengguna dan merancang prototipe aplikasi e-commerce yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan UMKM Desa Panjunan.

    Pada pertemuan kedua, yang diadakan pada 12 Agustus 2024, aplikasi e-commerce yang telah dikembangkan resmi diperkenalkan kepada masyarakat. Tim dari Telkom University tidak hanya mempresentasikan cara kerja aplikasi, tetapi juga memberikan pelatihan bagi para pelaku UMKM terkait pendaftaran dan penggunaan aplikasi untuk menjual produk mereka secara online.

    Dampak dan Harapan Ke Depan

    Sebelumnya, banyak pelaku UMKM di Desa Panjunan kesulitan mendapatkan harga jual yang layak karena keterlibatan tengkulak yang mengambil keuntungan besar. “Banyak pelaku UMKM yang mengalami kesulitan dalam menjual produk mereka dengan harga yang layak karena akses pasar yang terbatas,” ungkap salah satu warga.

    Dengan hadirnya aplikasi e-commerce ini, UMKM di Desa Panjunan kini dapat menjual produk mereka secara langsung ke konsumen tanpa perantara, memastikan harga yang lebih layak dan keuntungan yang lebih besar bagi para pelaku usaha.

    Selain itu, aplikasi ini diharapkan dapat terus berkembang seiring dengan kebutuhan pasar agar tetap relevan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Program ini juga menjadi bukti nyata dari komitmen Telkom University dalam mendukung kewirausahaan berbasis teknologi, sejalan dengan visinya untuk menjadi entrepreneurial university yang berfokus pada inovasi digital guna memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.

    REFERENSI:

    https://harianbangsa.net/telkom-university-surabaya-bantu-umkm-desa-panjunan-go-digital

    Author: @gerrardgs

  • Karir Informatika: Profesi, Tugas, dan Kisaran Gaji

    Karir Informatika: Profesi, Tugas, dan Kisaran Gaji

    Karir Informatika: Profesi, Tugas, dan Kisaran Gaji

    Program Studi S1 Informatika mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi profesional di bidang teknologi informasi dan komputer, dengan kompetensi dalam pengembangan sistem, pengolahan data, dan manajemen infrastruktur TI. Lulusan Informatika sangat dibutuhkan di berbagai sektor, dari startup hingga korporasi besar. Berikut adalah daftar profesi menjanjikan yang dapat ditekuni oleh lulusan S1 Informatika lengkap dengan deskripsi, tanggung jawab, dan kisaran gaji.

    Analis Business Intelligence

    Analis Business Intelligence bertugas mengumpulkan, menganalisis, dan menyajikan data untuk mendukung pengambilan keputusan strategis perusahaan. Mereka membuat dashboard, laporan, dan visualisasi data untuk manajemen. Profesi ini menuntut pemahaman data warehousing dan tools seperti Power BI atau Tableau. Kisaran gaji: Rp 8-16 juta/bulan.

    Database Administrator

    Database Administrator bertanggung jawab atas instalasi, konfigurasi, pemeliharaan, dan pengamanan sistem database. Mereka memastikan data dapat diakses dengan cepat, aman, dan tanpa gangguan. Profesi ini memerlukan keahlian dalam SQL dan sistem manajemen basis data seperti MySQL, PostgreSQL, atau Oracle. Kisaran gaji: Rp 8-18 juta/bulan.

    Analis Data

    Analis Data bekerja mengolah dan menganalisis data dalam jumlah besar untuk menemukan pola, tren, dan insight penting. Mereka mendukung strategi bisnis dengan laporan dan rekomendasi berbasis data. Keahlian yang dibutuhkan mencakup Excel, Python, dan teknik statistik. Kisaran gaji: Rp 7-15 juta/bulan.

    Analis Program

    Analis Program bertugas memahami kebutuhan pengguna dan merancang solusi sistem yang sesuai. Mereka menyusun dokumen spesifikasi dan berinteraksi dengan tim pengembang untuk memastikan kesesuaian antara sistem dan kebutuhan. Profesi ini merupakan penghubung antara pengguna dan tim teknis. Kisaran gaji: Rp 7-14 juta/bulan.

    Software Engineer

    Software Engineer mengembangkan perangkat lunak dari tahap desain hingga implementasi. Mereka merancang sistem, menulis kode, melakukan testing, dan maintenance untuk memastikan software berjalan dengan baik. Profesi ini sangat dibutuhkan di industri digital. Kisaran gaji: Rp 8-20 juta/bulan.

    Network Administrator

    Network Administrator mengelola dan memelihara jaringan komputer dalam organisasi. Tugasnya meliputi konfigurasi, keamanan, pemantauan performa jaringan, dan troubleshooting jika terjadi gangguan. Profesi ini penting untuk mendukung konektivitas data yang stabil. Kisaran gaji: Rp 7-14 juta/bulan.

    System Administrator

    System Administrator memastikan sistem operasi, server, dan perangkat lunak berjalan dengan lancar. Mereka melakukan update sistem, manajemen user, backup data, dan keamanan sistem. Profesi ini menjadi tulang punggung operasional TI perusahaan. Kisaran gaji: Rp 7-15 juta/bulan.

    Web Administrator

    Web Administrator mengelola situs web perusahaan, memastikan uptime, keamanan, dan performa situs. Mereka juga menangani pembaruan konten, konfigurasi server, dan analisis trafik web. Profesi ini dibutuhkan di semua organisasi yang memiliki kehadiran digital. Kisaran gaji: Rp 6-12 juta/bulan.

    System Analyst

    System Analyst menganalisis dan merancang solusi teknologi informasi sesuai kebutuhan organisasi. Mereka mengidentifikasi permasalahan sistem yang ada dan mengusulkan perbaikan berbasis teknologi. Profesi ini merupakan peran strategis antara bisnis dan teknologi. Kisaran gaji: Rp 8-17 juta/bulan.

    Junior IT Consultant

    Junior IT Consultant membantu memberikan solusi teknologi untuk kebutuhan klien. Mereka bekerja dalam tim untuk menganalisis sistem yang ada dan mengusulkan peningkatan berbasis praktik terbaik di industri. Posisi ini membuka jalan menuju karir konsultan TI profesional. Kisaran gaji: Rp 7-13 juta/bulan.

    IT-preneur (Founder/Executive)

    Lulusan Informatika juga berpeluang menjadi IT-preneur dengan membangun startup atau usaha berbasis teknologi. Mereka menciptakan solusi inovatif, memimpin strategi bisnis, dan memanfaatkan teknologi untuk menciptakan nilai baru. Potensi penghasilan sangat bervariasi tergantung skala usaha.

    Akademisi (Asisten Dosen, Laboran)

    Sebagai akademisi, lulusan Informatika dapat mengajar, mendampingi praktikum, atau membantu kegiatan laboratorium di institusi pendidikan. Mereka juga berkontribusi dalam riset dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kisaran gaji: Rp 5-10 juta/bulan.

    Staf R&D (Asisten Peneliti)

    Staf Riset dan Pengembangan (R&D) membantu peneliti utama dalam merancang, menguji, dan menyempurnakan produk atau sistem berbasis teknologi. Mereka terlibat dalam eksperimen dan dokumentasi hasil riset. Profesi ini cocok bagi yang berminat pada inovasi dan pengembangan teknologi baru. Kisaran gaji: Rp 6-13 juta/bulan.

    Dengan berbagai pilihan profesi yang strategis dan relevan di era digital, lulusan S1 Informatika memiliki prospek karir yang luas dan dinamis di industri teknologi dan inovasi.

  • Jaga Data, Jaga Diri: Etika Big Data di Era Serba Digital

    Jaga Data, Jaga Diri: Etika Big Data di Era Serba Digital

    Pernah gak sih kamu ngerasa kayak di-stalk sama iklan? Baru ngomongin sepatu, eh langsung muncul iklan sepatu di timeline. Serem gak, tuh? Atau pas lagi galau, tiba-tiba FYP TikTok penuh sama video tarot yang relate banget. Kok bisa, ya?

    Nah, itu terjadi karena data kamu sedang (dan mungkin terus) dipakai buat targeted advertising. Setiap kali kamu buka Instagram, scroll Shopee, atau cari tempat makan di Google Maps, kamu tanpa sadar ninggalin jejak data digital.

    Data ini awalnya kelihatan sepele: lokasi kamu, barang yang kamu cari, waktu kamu aktif di aplikasi. Tapi kalau semua itu dikumpulin dari jutaan pengguna? Jadilah Big Data.

    🤖 Big Data Itu Apa Sih?

    Big Data adalah kumpulan data dalam jumlah super besar dan kompleks yang dikumpulkan dari berbagai sumber digital—media sosial, transaksi belanja online, GPS, bahkan kebiasaan kamu buka aplikasi. Data ini dianalisis untuk memprediksi perilaku pengguna, meningkatkan layanan, sampai ngatur strategi bisnis.

    Tapi, dibalik manfaatnya yang banyak, Big Data juga menyimpan potensi masalah etika yang harus kita waspadai. Karena kalau disalahgunakan… bisa berabe juga, guys.

    ⚠️ Apa Aja Sih Risiko Etika Big Data?

    1. 🔓 Pengumpulan Tanpa Izin. Banyak aplikasi atau website ambil data tanpa kasih tahu kita dengan jelas. Kadang, kita cuma asal klik “Agree” tanpa baca apa-apa. Padahal, bisa aja data pribadi seperti lokasi, minat, bahkan kontak dikumpulin.
    2. 🕵️‍♂️ Manipulasi Iklan.  Data kamu bisa dipakai untuk menargetkan iklan tertentu yang sengaja didesain biar kamu tergoda. Ini bisa jadi manipulatif kalau dilakukan tanpa transparansi.
    3. 📉 Kurangnya Literasi Data. Gak semua orang ngerti pentingnya jaga privasi digital. Akibatnya, banyak yang gak sadar datanya udah tersebar ke mana-mana. Ini bikin pengguna jadi rentan dan gak punya kendali.
    4. 💥 Kebocoran Data. Data yang disimpan bisa bocor karena sistem yang gak aman. Data kamu bisa jatuh ke tangan orang lain, entah itu hacker atau perusahaan yang gak bertanggung jawab.

    🚀 Terus, Gimana Solusinya?

    1. 📢 Transparansi Data. Perusahaan wajib terbuka soal data apa aja yang mereka kumpulkan, buat apa, dan gimana cara kerjanya. Pengguna juga berhak tahu dan paham sebelum kasih izin.
    2. 🧰 Kontrol di Tangan Pengguna. Kasih opsi buat atur, lihat, atau bahkan hapus data pribadi yang udah dikumpulkan. Gak boleh ada yang serba sembunyi-sembunyi.
    3. 🔐 Sistem Keamanan yang Ketat. Data harus dijaga dengan sistem enkripsi yang kuat dan audit privasi secara berkala. Tujuannya? Supaya gak gampang dibobol hacker atau bocor ke pihak yang gak diinginkan.
    4. 📚 Edukasi Digital. Kita semua, terutama anak-anak kuliahan, perlu makin melek soal privasi data. Mulai dari baca kebijakan privasi (walau panjang, plis dibaca), cek setting aplikasi, sampai tahu hak-hak kita di dunia digital.

    🧠 Bonus Tips Buat Kamu!

    • Jangan asal isi data pribadi di form yang gak jelas
    • Gunakan password yang kuat dan beda-beda di tiap akun
    • Hati-hati sama aplikasi yang minta izin akses “aneh”
    • Pake fitur incognito atau ad-block kalau perlu
    • Selalu cek dan atur ulang setting privasi media sosial kamu

    🎯 Jadiii, Inget Ya Guys…

    Data kita itu berharga.
    Jangan asal klik “Setuju” tanpa ngerti konsekuensinya. Di era digital yang semuanya serba online, menjaga privasi itu sama pentingnya kayak jaga reputasi.

    Yuk jadi pengguna internet yang cerdas, sadar data, dan melek etika. Jangan tunggu sampai data kamu dipakai buat hal-hal yang gak kamu setujui. Karena sekali bocor… bisa viral, bisa bahaya.

  • Zero Trust Security: Strategi Keamanan Jaringan yang Wajib Diketahui!

    Zero Trust Security: Strategi Keamanan Jaringan yang Wajib Diketahui!

    Di dunia digital yang makin berkembang, ancaman terhadap keamanan informasi nggak cuma datang dari luar, tapi juga bisa berasal dari dalam organisasi itu sendiri. Serangan siber kayak peretasan, malware, dan ransomware sekarang semakin pintar dalam memanfaatkan celah di sistem yang masih percaya bahwa jaringan internal itu “aman”. Nah, untuk jawab tantangan ini, ada pendekatan baru yang disebut Zero Trust Security, yang jadi solusi lebih relevan di zaman sekarang.

    Apa Itu Zero Trust Security?

    Zero Trust Security adalah pendekatan keamanan yang menolak memberikan kepercayaan secara otomatis kepada siapa pun atau apa pun, baik yang berada di dalam maupun di luar jaringan. Prinsip utamanya adalah “Never Trust, Always Verify”. Artinya, setiap kali ada yang coba akses sistem, data, atau aplikasi, harus melalui proses verifikasi dulu—terlepas dari di mana mereka berada.

    Berbeda dengan model lama yang membagi antara jaringan internal dan eksternal, Zero Trust itu lebih fleksibel. Kenapa? Karena sekarang perangkat dan pengguna bisa akses jaringan dari mana aja—di rumah, di luar negeri, atau di kafe. Jadi, kepercayaan nggak lagi dibangun berdasarkan lokasi, tapi berdasarkan siapa yang coba akses dan apa tujuannya.

    Prinsip-Prinsip Zero Trust

    Ini dia prinsip-prinsip utama Zero Trust yang bikin sistem lebih aman:

    1. Never Trust, Always Verify
      Setiap permintaan akses harus selalu diverifikasi, nggak peduli dari dalam atau luar jaringan.
    2. Least Privilege Access
      Setiap orang atau perangkat cuma dapat akses yang dibutuhkan untuk tugas mereka, biar nggak ada celah buat penyalahgunaan.
    3. Micro-Segmentation (Segmentasi Jaringan)
      Zero Trust memecah jaringan jadi bagian kecil-kecil, jadi kalau satu bagian disusupi, serangan nggak bisa menyebar ke seluruh sistem.
    4. Multi-Factor Authentication (MFA)
      Akses nggak cuma rely di satu metode. Ada kombinasi kata sandi, OTP, atau biometrik untuk pastikan yang login itu bener-bener orang yang sah.
    5. Pemantauan dan Analisis Berkelanjutan
      Semua aktivitas dalam jaringan dipantau secara real-time, jadi ancaman bisa dideteksi dan diatasi lebih cepat.
    6. Verifikasi Perangkat dan Pengguna
      Nggak cuma penggunanya yang perlu diverifikasi, tapi perangkat yang digunakan juga harus aman dan tervalidasi dulu.

    Langkah-langkah Menerapkan Zero Trust

    Mau menerapkan Zero Trust? Berikut beberapa langkah yang perlu dilakukan oleh organisasi:

    • Identifikasi dan verifikasi semua pengguna dan perangkat yang terhubung ke jaringan.
    • Terapkan kontrol akses ketat berdasarkan identitas dan peran masing-masing.
    • Bagi jaringan jadi segmen-segmen kecil untuk meningkatkan pengamanan.
    • Gunakan alat analisis dan monitoring untuk memantau aktivitas dan mendeteksi ancaman.

    Manfaat Zero Trust

    Kenapa Zero Trust itu penting? Ini dia manfaat utamanya:

    • 🔒 Keamanan Lebih Terjamin: Zero Trust bikin sistem lebih aman dari serangan yang datang dari luar maupun dalam.
    • 🚫 Membatasi Dampak Pelanggaran: Jika ada yang berhasil menembus, Zero Trust bisa membatasi dampaknya hanya pada area yang terdampak.
    • 🔐 Siap Hadapi Ancaman Modern: Zero Trust terus berkembang, jadi bisa adaptasi dengan pola serangan baru yang makin canggih.

    Kesimpulan

    Zero Trust Security bukan cuma tren, tapi jadi fondasi penting buat menjaga keamanan di dunia digital yang makin terhubung. Dengan verifikasi yang ketat dan kontrol akses yang cerdas, organisasi bisa lebih siap untuk menghadapi ancaman siber yang terus berkembang dan nggak mudah ditebak. Jadi, kalau belum pakai Zero Trust, mending mulai pertimbangkan deh!

Secret Link