
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT) telah mengubah cara manusia berinteraksi dengan dunia digital. Kini, integrasi keduanya melahirkan konsep AIoT (Artificial Intelligence of Things), yaitu IoT yang diperkuat oleh kecerdasan buatan. Namun, tantangan besar dari IoT adalah volume data yang sangat masif dan kebutuhan akan respon cepat. Di sinilah Edge AI hadir, membawa kecerdasan lebih dekat ke perangkat dan dunia nyata.
Edge AI berarti menempatkan kemampuan AI langsung di perangkat edge, seperti sensor, kamera, atau gateway, sehingga data dapat diproses secara lokal tanpa harus dikirim seluruhnya ke cloud. Dengan pendekatan ini, sistem dapat menghasilkan keputusan real-time yang penting untuk aplikasi kritis, mulai dari mobil otonom, sistem kesehatan pintar, hingga manufaktur cerdas. Shi et al. (2016) mencatat bahwa edge computing mampu memangkas latensi hingga 80%, menjadikannya solusi tepat bagi IoT yang membutuhkan kecepatan.
Integrasi Edge AI dengan AIoT membawa banyak manfaat. Pertama, respons lebih cepat. Misalnya, kamera keamanan dengan Edge AI bisa langsung mendeteksi aktivitas mencurigakan dan mengirimkan peringatan tanpa bergantung pada server pusat. Kedua, efisiensi jaringan. Data yang tidak relevan dapat difilter di perangkat, sehingga hanya informasi penting yang dikirim ke cloud. Ketiga, privasi lebih terjaga, karena data sensitif dapat diproses di perangkat lokal tanpa keluar dari jaringan pribadi.
Di sektor industri, AIoT berbasis Edge AI dapat mendukung predictive maintenance dengan memantau kondisi mesin secara real-time. Dalam kesehatan, wearable dengan Edge AI mampu mendeteksi gejala kritis seperti aritmia atau hipoksia dan memberi peringatan instan. Sementara itu, di transportasi, kendaraan yang terhubung dengan AIoT bisa berkomunikasi dengan infrastruktur jalan untuk mengurangi risiko kecelakaan. Zhou et al. (2019) menyebut tren ini sebagai edge intelligence, yang membuka jalan bagi sistem otonom yang benar-benar dekat dengan dunia nyata.
Meski potensinya besar, integrasi Edge AI dan AIoT juga menghadapi tantangan. Perangkat harus memiliki daya komputasi tinggi dengan konsumsi energi rendah, interoperabilitas antarplatform masih menjadi masalah, dan keamanan siber harus diperkuat agar data IoT tidak rentan diretas. Namun, perkembangan chip AI hemat energi dan jaringan 5G/6G membuat integrasi ini semakin mungkin diterapkan secara luas.
Masa depan teknologi akan ditentukan oleh seberapa baik AI bisa hadir di dunia nyata, bukan hanya di cloud. Dengan Edge AI dan AIoT, kecerdasan buatan benar-benar hadir di sekitar kita, membuat perangkat lebih cerdas, responsif, dan adaptif. Inilah langkah penting menuju ekosistem digital yang tidak hanya terhubung, tetapi juga benar-benar cerdas dalam melayani manusia.
Referensi
- Shi, W., Cao, J., Zhang, Q., Li, Y., & Xu, L. (2016). Edge Computing: Vision and Challenges. IEEE Internet of Things Journal, 3(5), 637–646. https://doi.org/10.1109/JIOT.2016.2579198
- Zhou, Z., Chen, X., Li, E., Zeng, L., Luo, K., & Zhang, J. (2019). Edge Intelligence: Paving the Last Mile of Artificial Intelligence With Edge Computing. Proceedings of the IEEE, 107(8), 1738–1762. https://doi.org/10.1109/JPROC.2019.2918951
- Xu, X., Lu, Y., Vogel-Heuser, B., & Wang, L. (2021). Industry 4.0 and Industry 5.0—Inception, Conception and Perception. Journal of Manufacturing Systems, 61, 530–535. https://doi.org/10.1016/j.jmsy.2021.10.006
- Chen, M., Hao, Y., Cai, Y., Wang, Y., & Hwang, K. (2020). Edge Cognitive Computing Based Smart Healthcare System. Future Generation Computer Systems, 96, 563–573. https://doi.org/10.1016/j.future.2019.02.050
- Gubbi, J., Buyya, R., Marusic, S., & Palaniswami, M. (2013). Internet of Things (IoT): A Vision, Architectural Elements, and Future Directions. Future Generation Computer Systems, 29(7), 1645–1660. https://doi.org/10.1016/j.future.2013.01.010