
Surabaya, 28 April 2026 – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Kehadiran teknologi AI memberikan kemudahan bagi siswa dalam mencari informasi, memahami materi, menyusun ide, hingga membantu proses belajar secara mandiri. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru, seperti ketergantungan berlebih terhadap AI, pelanggaran etika akademik, penyalahgunaan informasi, serta rendahnya kesadaran terhadap keamanan data dan jejak digital.
Merespons fenomena tersebut, tim mahasiswa Program Studi S1 Informatika Telkom University Surabaya menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Peningkatan Literasi Digital dan Etika Pemanfaatan Artificial Intelligence”. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Informatika untuk Masyarakat (IUM) yang dilaksanakan secara tatap muka pada Selasa, 28 April 2026, bertempat di SMA Widya Dharma, Surabaya.
Kegiatan ini menyasar siswa SMA sebagai generasi digital native yang telah terbiasa menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Fokus utama kegiatan tidak hanya terletak pada pengenalan teknologi AI secara teknis, tetapi juga pada pembentukan pola pikir kritis, etis, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi digital. Hal ini penting karena AI tidak seharusnya digunakan sebagai pengganti proses berpikir, melainkan sebagai alat bantu untuk memperkuat pemahaman dan produktivitas belajar.

Dalam penyampaian materi, tim pengabdian memperkenalkan konsep literasi digital, etika penggunaan AI, serta pentingnya menjaga integritas akademik. Siswa diajak memahami bahwa jawaban dari AI tetap perlu diverifikasi, dibandingkan dengan sumber lain, dan digunakan secara bijak. Pemanfaatan AI dalam kegiatan belajar perlu memperhatikan prinsip kejujuran, transparansi, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap karya intelektual.
Salah satu pendekatan yang diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah kerangka DIKW, yaitu Data, Information, Knowledge, dan Wisdom. Melalui kerangka ini, siswa diajak memahami perbedaan antara data mentah, informasi yang telah diproses, pengetahuan yang diperoleh melalui pemahaman, serta kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Dengan pendekatan tersebut, siswa diharapkan mampu memilah informasi digital secara lebih kritis dan tidak menerima hasil AI secara mentah-mentah.
Selain materi literasi digital dan etika AI, tim pengabdian juga memberikan pengenalan dasar bahasa pemrograman Python untuk analisis data. Materi ini diberikan agar siswa memperoleh gambaran sederhana mengenai bagaimana data dapat diolah, dianalisis, dan divisualisasikan secara logis. Pengenalan Python juga bertujuan melatih cara berpikir terstruktur dan matematis, sehingga siswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mulai memahami cara kerja teknologi di baliknya.
Selama kegiatan berlangsung, siswa SMA Widya Dharma menunjukkan antusiasme yang tinggi. Suasana pembelajaran dirancang santai, komunikatif, dan interaktif agar materi yang disampaikan lebih mudah dipahami. Kegiatan juga diselingi dengan ice breaking berupa kuis tebak gambar interaktif seputar teknologi AI. Sesi ini mendapat respons positif dari peserta karena mampu membangun suasana belajar yang lebih hidup dan menyenangkan.
Berdasarkan hasil evaluasi melalui post-test dan kuesioner umpan balik, mayoritas peserta menyatakan bahwa materi yang diberikan mudah dipahami, menarik, dan relevan dengan kebutuhan mereka sebagai pelajar. Siswa juga menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya menggunakan AI secara bertanggung jawab, terutama dalam mengerjakan tugas sekolah, mencari referensi, serta menjaga etika digital di ruang belajar maupun media sosial.
Kegiatan IUM ini diharapkan dapat menjadi fondasi awal bagi siswa SMA Widya Dharma untuk menjadi pengguna teknologi yang kritis, bijak, dan beretika. Melalui literasi digital dan pemahaman terhadap etika pemanfaatan AI, siswa diharapkan tidak hanya menjadi konsumen pasif teknologi, tetapi juga mampu mengendalikan teknologi untuk mendukung proses belajar dan pengembangan diri.
Dengan mengedepankan human-centered mindset, pemanfaatan AI di lingkungan pendidikan perlu diarahkan untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya. Oleh karena itu, prinsip keadilan, transparansi, keamanan, dan tanggung jawab digital perlu terus ditanamkan sejak dini agar siswa mampu menghadapi perkembangan teknologi secara cerdas dan bermartabat.
Lampiran Dokumentasi Kegiatan:
https://drive.google.com/drive/folders/1_fuT-T8OHt1gOmDM7yozFP3C3eaXWCUa?usp=drive_link
Tim Pengabdian Masyarakat (IUM Non-06)
Dosen Pembimbing: Dr. Dyah Putri Rahmawati, S.Stat.
Ketua Tim: Dani Adinugroho – 1203230119
Anggota:
I Made Suta Eka Dharma – 1203230072
Danedra Urdha Bhanu C.H. – 1203230110
Referensi
Situmorang, K. J., Sundari, P., & rekan. (2025). Peran Sekolah dalam Peningkatan Literasi Digital Kecerdasan Buatan Guna Mendukung Generasi Emas 2045. Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan (JIIP).
Qonita, A. F. (2025). Penggunaan ChatGPT sebagai Sumber Belajar Tambahan dalam Meningkatkan Pemahaman Materi Kuliah bagi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember Angkatan 2022. Undergraduate Thesis, UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
Hermila, A., Bau, R. T. R., & Bouty, A. A. (2024). Penggunaan ChatGPT sebagai Sumber Pembelajaran Adaptif untuk Menanggapi Kebutuhan Individu Siswa. VOCATECH: Vocational Education and Technology Journal, 5(2), 126-135.
Yuniarto, B., & Yudha, R. P. (2021). Literasi Digital sebagai Penguatan Pendidikan Karakter Menuju Era Society 5.0. Edueksos: Jurnal Pendidikan Sosial & Ekonomi, 10(2).
UNESCO. (2023). Guidance for Generative AI in Education and Research. Paris: United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization.
UNESCO. (2024). AI Competency Framework for Students. Paris: United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization.