
Perkembangan teknologi informasi di era digital menghadirkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang kini menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari mesin pencari, media sosial, hingga sistem keamanan digital. Kehadiran AI memberikan kemudahan sekaligus efisiensi, namun di sisi lain juga memunculkan tantangan serius, khususnya bagi generasi muda yang menjadi pengguna paling aktif teknologi ini.
Di tingkat pendidikan menengah, AI kerap dimanfaatkan dalam aktivitas sehari-hari siswa, baik untuk mencari informasi maupun mendukung proses belajar. Sayangnya, tingginya intensitas penggunaan teknologi tidak selalu sebanding dengan kemampuan literasi digital. Banyak siswa masih kesulitan memilah informasi yang valid, rentan terpapar hoaks, serta belum memahami pentingnya menjaga privasi dan keamanan data pribadi di ruang digital. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang AI tidak cukup hanya pada aspek penggunaan, tetapi juga pada kesadaran etika dan tanggung jawab.
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, kegiatan penyuluhan literasi digital dilaksanakan pada periode September 2025 hingga Januari 2026 di sekolah mitra dengan sasaran siswa SMP dan SMA. Program ini diinisiasi oleh mahasiswa S1 Informatika Telkom University Surabaya sebagai upaya meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai cara kerja AI, manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari, serta risiko yang menyertainya. Materi yang disampaikan mencakup fenomena penggunaan AI di lingkungan sekitar, strategi menghadapi informasi palsu, dan langkah-langkah praktis dalam melindungi data pribadi.
Pelaksanaan penyuluhan menggunakan metode interaktif yang mengombinasikan presentasi edukatif dengan simulasi pengecekan fakta. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa meskipun siswa tergolong sebagai digital native, sebagian besar masih memanfaatkan AI sebatas untuk hiburan tanpa memahami prinsip penggunaan yang bertanggung jawab, seperti menghindari plagiarisme, menjaga kerahasiaan kata sandi, dan mengelola jejak digital. Melalui contoh kasus nyata penyalahgunaan data serta praktik langsung membedakan berita fakta dan hoaks, siswa didorong untuk menjadi pengguna teknologi yang lebih kritis dan bijak.
Potensi besar siswa sebagai agen perubahan dapat semakin dioptimalkan melalui dukungan lingkungan sekolah. Kolaborasi antara siswa, guru, dan institusi pendidikan menjadi kunci dalam membangun budaya literasi digital yang berkelanjutan. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengintegrasikan nilai-nilai etika teknologi ke dalam pembelajaran sehari-hari, sehingga AI tidak hanya dipahami sebagai alat bantu, tetapi juga sebagai sarana untuk mengembangkan kreativitas, tanggung jawab, dan kesadaran sosial.
Pada akhirnya, AI merupakan inovasi yang membawa harapan besar bagi kemajuan masyarakat apabila diimbangi dengan literasi digital yang memadai. Kemampuan memverifikasi informasi sebelum membagikannya, menjaga keamanan data pribadi, serta memahami batasan penggunaan teknologi menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki generasi muda. Penguatan pemahaman teknologi sejak dini merupakan langkah strategis dalam mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab di tengah derasnya arus informasi digital.
Daftar Pustaka
- Aoun, J. E. (2017). Robot-Proof: Higher Education in the Age of Artificial Intelligence. Cambridge, MA: MIT Press.
- Bawden, D. (2008). Origins and concepts of digital literacy. Digital Literacies: Concepts, Policies and Practices, 17–32.
- Floridi, L., et al. (2018). AI4People—An ethical framework for a good AI society. Minds and Machines, 28(4), 689–707. [https://doi.org/10.1007/s11023-018-9482-5](https://doi.org/10.1007/s11023-018-9482-5)
- Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (2021). Modul Literasi Digital Nasional. Jakarta: Kominfo RI.
- Livingstone, S. (2014). Developing social media literacy: How children learn to interpret risky opportunities on social network sites. Communications, 39(3), 283–303.
- OECD. (2021). Artificial Intelligence, Machine Learning and Big Data in Education. Paris: OECD Publishing. [https://doi.org/10.1787/ae9f4eea-en](https://doi.org/10.1787/ae9f4eea-en)
- Rahman, F., & Romadhona, Y. (2023). Literasi digital sebagai upaya membentuk karakter generasi muda di era teknologi. Jurnal Pengabdian Masyarakat Informatika, 5(2), 45–52.
- UNESCO. (2018). Media and Information Literacy: Policy and Strategy Guidelines. Paris: UNESCO.
- UNESCO. (2021). Artificial Intelligence and Education: Guidance for Policy-makers. Paris: UNESCO.
- Wardle, C., & Derakhshan, H. (2017). Information Disorder: Toward an Interdisciplinary Framework. Strasbourg: Council of Europe.
- World Economic Forum. (2020). Schools of the Future: Defining New Models of Education for the Fourth Industrial Revolution. Geneva: WEF.
Lampiran
Link Drive :
Tim Sukses
- Eka Jasmine Octaviani
- Josefania Tirsa Putri Immanuely
- Galang Ubaidillah
- M Faruq Rantisi